Senin, 30 Januari 2012

Stereotipe dan Pengaruh Media


Berbicara tentang stereotype, memang tidak bisa lepas dari faktor media. Banyak sekali stereotype yang muncul atau timbul di masyarakat berawal dari pemberitaan media baik itu media cetak atau elektronik. Seperti yang dijelaskan dalam perkuliahan pak Steve hari kamis kemarin, banyak sekali contoh-contoh daripada pengaruh media terhadap munculnya stereotype di masyarakat.
Secara tidak langsung, media memang memberikan andil yang cukup besar terhadap berkembangnya stereotype di masyarakat. Apalagi media elektronik seperti televisi yang dengan pemberitaannya yang sering dilihat oleh masyarakat. Misalnya saja iklan-iklan di televisi. Di Indonesia hal ini memang masih jarang dijumpai (atau mungkin malah sering dijumpai ya, hehehe), akan tetapi di luar negeri seperti di Negara Amerika Serikat ada cukup banyak contoh pemberitaan media televisi yang cenderung men-stereotipkan suatu kelompok orang tertentu. Kita sudah banyak melihat contohnya sewaktu perkuliahan pak Steve kemarin.
Memang di satu sisi, kita tidak boleh langsung saja mempercayai apa yang diberitakan oleh media tersebut. Karena biasanya pemberitaan media itu subjektif. Media sering hanya mengangkat sisi atau tema yang terlihat dari luarnya saja dan sering mereka juga kurang menggali lagi secara lebih mendalam tentang fakta atau kebenaran tentang suatu kelompok orang tertentu di masyarakat. Inilah yang acapkali membuat apa yang diberitakan oleh media terkesan menjadi langsung dipercayai begitu saja oleh khalayak luas. Padahal mungkin saja informasi itu belum cukup akurat karena baru dilihat dari satu sisi saja.
Terlepas dari itu semua, pemberitaan dari media juga tidak selamanya membawa efek yang negatif terhadap suatu kelompok atau grup tertentu. Malah terkadang, hal itu justru dapat membuat mereka menjadi terkenal atau lebih dikenal oleh masyarakat (terkenal apanya dulu ya, jeleknya atau baiknya, hehehe). Ya begitulah , dalam segala hal yang terjadi pasti terkandung suatu hikmah atau pesan yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran.

Senin, 23 Januari 2012

Stereotipe tentang orang berkacamata minus


Kalau anda pernah menonton salah satu film fiksi yang berjudul “superman” atau jikalau anda adalah salah satu pengagum berat film ini, anda pasti tahu bahwa dalam film ini aktor atau pemeran utamanya dalam kesehariannya memakai kacamata. Terlepas kacamata yang dipakainya itu minus atau tidak itu bukan jadi masalah. Seringkali di masyarakat kita terdapat semacam anggapan atau stigma terhadap suatu kelompok orang yang belum tentu sepenuhnya anggapan tersebut benar akan tetapi citra dari anggapan tersebut bisa jadi nampak kuat karena hal tersebut memang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah salah satu stereotipe yang kerap hadir di tengah-tengah kehidupan kita, bahwasanya orang yang memakai kacamata minus sering dianggap mempunyai kecerdasan lebih dibandingkan dengan orang yang tidak berkacamata minus. Namun hal tersebut tidak selalu bisa dijadikan ukuran bahwa orang berkacamata minus itu adalah orang yang memiliki kecerdasan lebih. Jika kita mau berpikir sejenak, mungkin saja dengan memakai kacamata minus, orang tersebut bisa jadi lebih terlihat sebagai orang yang mempunyai kecerdasan lebih.
Tapi jelasnya, yang namanya stereotype itu kita boleh percaya boleh juga tidak. Tergantung bagaimana kita menyikapi hal tersebut saja. Jadi lebih baik diambil yang positif sementara yang negatif kita tinggalkan saja.

Senin, 16 Januari 2012

Liburan di Pati


Waktu liburan semester satu merupakan waktu liburan yang cukup panjang. Dari pada nganggur di rumah saya memutuskan untuk ikut om saya pergi ke rumah orang tuanya yang berada di Pati. Pati merupakan salah satu kota yang ada di provinsi Jawa Tengah. Kota ini terletak di kawasan pesisir pantai utara pulau Jawa. Kami pergi ke sana beserta om, bibi, dan juga adik sepupu saya. Perjalanan ke sana kami tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Waktu yang ditempuh selama perjalanan ke Pati hampir mencapai kurang lebih 5 jam disebabkan kami sempat beristirahat dua kali. Yang pertama di Gubug sedangkan yang kedua di stasiun pom bensin Purwodadi. Selama di Pati saya tinggal di rumah orang tua om saya, yang bernama mbah Tik. Rumah mbah Tik ini terletak di desa Soneyan Kecamatan Margoyoso. Mbah Tik sendiri dikenal sebagai salah satu sesepuh di desa ini, sehingga banyak warga yang menaruh hormat kepada beliau. Hal ini nampak dari sikap mereka yang selalu memberi salam ketika berjumpa dengan beliau.
Desa Soneyan sendiri terdiri dari tiga RW yaitu: Sumber (RW1), Dungpanjang (RW2), dan Clangap (RW3). Sebagai salah satu daerah di Jawa Tengah, desa ini masih menyimpan dan melestarikan berbagai adat dan kesenian jawa. Diantaranya yaitu: Lamporan (diadakan setiap bulan Suro sebagai upacara untuk mengusir roh jahat), dan pada siang harinya digelar acara Barongan. Selain itu setiap bulan April juga diadakan sedekah bumi di 3 perdukuhan, dengan menggelar hiburan antara lain Seni Topeng, Wayang Kulit dan Barongan. (dikutip dari wikipedia)
Kehidupan masyarakat di desa Soneyan sendiri sebagian besar bertumpu pada bidang pertanian. Hal ini dapat terlihat dengan begitu banyaknya lahan yang  ditanami dengan berbagai macam tanaman dan pepohonan. Salah satu pohon yang sering dijumpai di desa ini yaitu pohon rambutan. Hampir di setiap rumah di desa ini memiliki setidaknya satu pohon rambutan. Selain bertani, mata pencaharian penduduk di desa ini ada yang beternak sapi atau kambing. Pagi-pagi sekali biasanya orang-orang pergi mencari rumput untuk makan ternak mereka. Kehidupan masyarakat di desa Soneyan ini sangat baik dan terjalin dengan harmonis.