Minggu, 19 Februari 2012

Sekilas Tentang Etnosentrisme

Terlambat posting seminggu lebih, hiks-hiks. Dikarenakan jadwal yang cukup padat sepekan terakhir ini. Membuat saya jadi agak pusing. Tapi biar lebih nggak pusing, lebih baik dikerjakan saja semampu dan sebisanya. Pada perkuliahan pak steve tanggal 9 Februari 2012 dibahas tentang etnosentrisme. Pertama kali mendengar istilah ini sedikit agak mengernyitkan dahi. Apa sih etnosentrisme itu? Mana artikelnya pake bahasa inggris lagi. Oke, etnosentrisme adalah suatu hasil atau akibat dari adanya identitas suatu etnis (berdasarkan kajian setelah baca-baca di internet, Ups, tapi koq nggak dicantumin sumbernya sih? emang ini bikin proposal skripsi, hehehe). Oke, kita lanjutkan mengenai etnosentrisme ini.
Menurut Matsumoto (1996, dalam Ahmanto Mendatu) menyatakan bahwa etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentrisme tidak selalu negatif sebagimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan. Pada saat konflik, etnosentrisme benar-benar bermanfaat. Dengan adanya etnosentrisme, kelompok yang terlibat konflik dengan kelompok lain akan saling dukung satu sama lain. Salah satu contoh dari fenomena ini adalah ketika terjadi pengusiran terhadap etnis Madura di Kalimantan, banyak etnis Madura di lain tempat mengecam pengusiran itu dan membantu para pengungsi.
Etnosentrisme memiliki 2 tipe yang satu sama lain saling berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki tipe etnosentrisme ini dapat blajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.
Lawan dari etnosentrisme adalah etnorelativisme, yaitu kepercayaan bahwa semua kelompok, semua budaya dan subkultur pada hakekatnya sama (Daft, 1999 dalam Ahmanto Mendatu). Dalam etnorelativisme setiap etnik dinilai memiliki kedudukan yang sama penting dan sama berharganya. Dalam bahasa filsafat, orang yang mampu mencapai pengertian demikian adalah orang yang telah mencapai tahapan sebagai manusia sejati; manusia humanis.
Etnosentrisme jelas bukan sesuatu yang harus dihilangkan sama sekali. Ia patut dipelihara karena etnosentrisme memang fungsional. Dalam hal ini etnosentrisme fleksibellah yang harus dikembangkan. Dengan etnosentrisme fleksibel, kehidupan multikultur yang damai bisa berlangsung sementara masing-masing kultur tidak kehilangan identitasnya. Dan inilah yang sebenarnya diimpikan dan didambakan oleh banyak orang agar terciptanya perdamaian dan kerukunan antar sesama. Walaupun terdiri dari berbagai macam etnis dan suku bangsa, seharusnya ini tidak menghalangi untuk terciptanya kehidupan yang saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Dalam hal ini, kita perlu banyak belajar dari Negara Australia. Di Negara yang sangat kental dengan aroma multikulturalisme ini, kehidupan warga negaranya yang berasal dari banyak negara dapat berlangsung dengan damai dan minim dari pertikaian. Meskipun terkadang juga masih ditemukan beberapa konflik, akan tetapi tidak terlalu dominan dari segi kuantitas. Di tengah prahara dan konflik yang sedang melanda dunia ini akankah setiap orang  sadar dan introspeksi diri bahwa jikalau mereka dapat memahami hakikat etnosentrisme yang fleksibel niscaya kehidupan yang penuh dengan arti dan persahabatan akan dapat tercipta. Oke, teman sampai disini dulu perjumpaan kita. Semoga saja postingan saya ini bermanfaat.



2 komentar:

  1. Tepat sekali yg anda katakan kawan... selain terdapat sisi negative, etnosentrisme pun juga mempunyai sisi positive jika kita bisa menempatkannya pada keadaan yg tepat... :)

    BalasHapus