Minggu, 26 Februari 2012

Rasisme oh rasisme


Ehm, kali ini saya nggak mau terlambat buat posting. Setelah dua pekan terakhir saya selalu terlambat posting (maaf ya pak Steve..). Perkuliahan pak Steve minggu ini memnambil tema tentang rasisme. Menurut yang saya baca dari Wikipedia, rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Jadi dapat dikatakan bahwa rasisme merupakan suatu paham yang menyatakan adanya keunggulan atau superioritas suatu bangsa atau ras tertentu terhadap bangsa atau ras lainnya yang mereka anggap tidak memiliki keunggulan baik dari segi kecerdasan ataupun dari segi fisik.
Berdasarkan definisi tersebut, hal yang dapat saya tangkap adalah bahwasanya rasisme itu adalah suatu paham yang cenderung untuk mendiskriminasikan ras atau bangsa tertentu yang tidak mempunyai kelebihan atau superioritas dibandingkan dengan bangsa lainnya. Sejarah telah mencatat rasisme telah diperkenalkan sejak dari jaman dahulu kala. Peristiwa yang cukup terngiang di ingatan saya adlah diberlakukanya politik apartheid di Afrika Selatan oleh orang kulit putih. Politik apartheid itu sendiri adalah politik yang dijalankan oleh orang kulit putih dalam rangka memisahkan pergaulan mereka dengan orang kulit hitam penduduk asli pribumi Afrika Selatan.
Dalam perkembangannya, rasisme kini telah menyentuh berbagai segi kehidupan, tak terkecuali dalam dunia sepakbola. Dalam olahraga yang seharusnya mengedepankan sportivitas ini tak urung telah ternodai akibat perilaku pemain ataupun suporter yang bertindak rasis saat berada di lapangan hijau. Masih segar dalam ingatan saya tentang tindakan rasis yang dilakukan pemain Liverpool Luis Suarez terhadap pemain Manchester United Patrice Evra. Hal ini tak pelak membuat saya sebagai penggemar Liverpool menjadi sedih. Di tengah prestasi yang tak kunjung bersinar, pemain Liverpool ini malah membuat kasus rasis dengan pemain dari seteru abadi mereka, MU (Ups, koq malah jadi ngelantur sampai ke sini??). Kembali ke inti persoalan, Luis Suarez sendiri diberitakan telah mengucapkan kata-kata yang bernada rasis terhadap Patrice Evra saat keduanya berhadapan dalam pertandingan kedua tim pada bulan Oktober 2011 yang lalu.
Dari lingkup sepakbola di Eropa pun, sebenarnya kasus rasis kerap dijumpai di beberapa pertandingan di liga-liga Eropa maupun pertandingan internasional antar Negara. Di beberapa Negara kawasan Eropa , bebrapa penonton ada yang bertindak rasis terhadap pemain berkulit hitam. Mereka kerap menirukan suara monyet atau bergaya seperti monyet tiap kali ada pemain berkulit hitam yang tengah menggiring bola. Hal ini tentunya menjadi permasalahan yang mengganggu jalannya pertandingan. Dan tindakan yang dilakukan oleh penonton tersebut sudah seharusnya tidak dapat dibenarkan karena dia secara  langsung menghina atau melecehkan pemain yang berkulit hitam.
Di Indonesia pun, sebenarnya kasus rasisme kerap terjadi meskipun tidak terlalu besar intensitasnya. Dalam perkuliahan CCU hari Kamis lalu. Pak Steve sempat membacakan sebuah artikel dari internet yang isinya menceritakan pengalaman seorang etnis tionghoa yang secara tidak sengaja mendengarkan anak kecil mengamen menyanyikan lagu yang menyindir etnis tionghoa. Dari sini bibit-bibit rasisme itu akan dapat muncul bila tidak segera dicari solusinya. Anak-anak itu mungkin saja terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya sehingga mengakibatkan mereka menyanyikan lagu yang tidak seharusnya mereka nyanyikan.
Usaha preventif yang sekiranya dapat ditempuh untuk mencegah meluasnya paham rasisme di Indonesia ini seharusnya harus sudah mulai digalakkan. Agar di kemudian hari tidak terjadi lagi kasus-kasus serupa yang berpotensi mengancan keutuhan bangsa kita.

Sub-Kultur Punk

Punk?? Pertama kali saya mendengar istilah tersebut saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.  Punk adalah sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik (Source: Wikipedia).
Di Indonesia sub-budaya ini telah tersebar  sampai ke beberapa tempat. Pada umumnya anak-anak muda-lah yang menjadi anggota atau yang lebih sering disebut anak “punk”. Mereka biasanya tergabung dalam suatu komunitas yang sering terlihat berada di pinggir-pinggir jalan atau dekat dengan traffic light. Hal ini dapat kita lihat contohnya di Salatiga di sekitar ruas jalan diponegoro dekat kampus UKSW.
Saat ini, sub-kultur punk dapat dikatakan telah mulai mengglobal bila dilihat dari perkembangannya yang cukup pesat. Hampir di jalanan kota-kota besar di Indonesia  dapat dijumpai anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas anak punk. Dari yang saya baca-baca di internet, anak punk selalu diidentikkan dengan perlawanan terhadap sistem kemapanan. Yang pada awalnya menginspirasi mereka melakukan perlawanan terhadap sistem kemapanan tersebut adalah adanya gejolak moral dan sosial yang melingkupi pemerintahan suatu Negara. Dimulai dari itu, mereka berinisiatif sendiri untuk membentuk suatu komunitas yang pada akhirnya mereja jadikan sebagai lifestyle atau gaya hidup maupun ideologi.
Yang paling terlihat jelas dari komunitas punk adalah dandanan atau cara berpakaian mereka. Dari mulai rambut sampai aksesoris yang melekat erat di pakaian mereka, semuanya merupakan simbol yang mempunyai arti dan makna tersendiri. Kesemuanya itu sudah menjadi ciri khas yang hanya dimiliki atau setidaknya yang menandai identitas anak punk.
Berbicara tentang punk tentu tidak akan melewatkan sebuah genre music yang disebut punk itu sendiri. Jenis atau aliran music ini dipelopori oleh grup band dari amerika seperti ramones, the vandals, ataupun dari Inggris seperti the sex pistols. Grup musik tersebut dapat dikatakan mempunyai andi dalam berkembangnya sub-kultur punk. Lirik lagu dalam musik punk sendiri biasanya menceritakan tentang perlawanan terhadap sistem yang berkuasa di dalam pemerintahan suatu Negara atau protes sosial terhadap ketidakadilan.

Minggu, 19 Februari 2012

Sekilas Tentang Etnosentrisme

Terlambat posting seminggu lebih, hiks-hiks. Dikarenakan jadwal yang cukup padat sepekan terakhir ini. Membuat saya jadi agak pusing. Tapi biar lebih nggak pusing, lebih baik dikerjakan saja semampu dan sebisanya. Pada perkuliahan pak steve tanggal 9 Februari 2012 dibahas tentang etnosentrisme. Pertama kali mendengar istilah ini sedikit agak mengernyitkan dahi. Apa sih etnosentrisme itu? Mana artikelnya pake bahasa inggris lagi. Oke, etnosentrisme adalah suatu hasil atau akibat dari adanya identitas suatu etnis (berdasarkan kajian setelah baca-baca di internet, Ups, tapi koq nggak dicantumin sumbernya sih? emang ini bikin proposal skripsi, hehehe). Oke, kita lanjutkan mengenai etnosentrisme ini.
Menurut Matsumoto (1996, dalam Ahmanto Mendatu) menyatakan bahwa etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentrisme tidak selalu negatif sebagimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan. Pada saat konflik, etnosentrisme benar-benar bermanfaat. Dengan adanya etnosentrisme, kelompok yang terlibat konflik dengan kelompok lain akan saling dukung satu sama lain. Salah satu contoh dari fenomena ini adalah ketika terjadi pengusiran terhadap etnis Madura di Kalimantan, banyak etnis Madura di lain tempat mengecam pengusiran itu dan membantu para pengungsi.
Etnosentrisme memiliki 2 tipe yang satu sama lain saling berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki tipe etnosentrisme ini dapat blajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.
Lawan dari etnosentrisme adalah etnorelativisme, yaitu kepercayaan bahwa semua kelompok, semua budaya dan subkultur pada hakekatnya sama (Daft, 1999 dalam Ahmanto Mendatu). Dalam etnorelativisme setiap etnik dinilai memiliki kedudukan yang sama penting dan sama berharganya. Dalam bahasa filsafat, orang yang mampu mencapai pengertian demikian adalah orang yang telah mencapai tahapan sebagai manusia sejati; manusia humanis.
Etnosentrisme jelas bukan sesuatu yang harus dihilangkan sama sekali. Ia patut dipelihara karena etnosentrisme memang fungsional. Dalam hal ini etnosentrisme fleksibellah yang harus dikembangkan. Dengan etnosentrisme fleksibel, kehidupan multikultur yang damai bisa berlangsung sementara masing-masing kultur tidak kehilangan identitasnya. Dan inilah yang sebenarnya diimpikan dan didambakan oleh banyak orang agar terciptanya perdamaian dan kerukunan antar sesama. Walaupun terdiri dari berbagai macam etnis dan suku bangsa, seharusnya ini tidak menghalangi untuk terciptanya kehidupan yang saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Dalam hal ini, kita perlu banyak belajar dari Negara Australia. Di Negara yang sangat kental dengan aroma multikulturalisme ini, kehidupan warga negaranya yang berasal dari banyak negara dapat berlangsung dengan damai dan minim dari pertikaian. Meskipun terkadang juga masih ditemukan beberapa konflik, akan tetapi tidak terlalu dominan dari segi kuantitas. Di tengah prahara dan konflik yang sedang melanda dunia ini akankah setiap orang  sadar dan introspeksi diri bahwa jikalau mereka dapat memahami hakikat etnosentrisme yang fleksibel niscaya kehidupan yang penuh dengan arti dan persahabatan akan dapat tercipta. Oke, teman sampai disini dulu perjumpaan kita. Semoga saja postingan saya ini bermanfaat.



Senin, 06 Februari 2012

The Fourth Posting

Selamat berjumpa kembali kawan-kawan. Setelah hampir satu minggu tak bertegur sapa, akhirnya kita bersua lagi di “arena” blog yang khusus buat tugas mata kuliah cross cultural understanding yang diampu oleh Pak Steve. Judul postingan di atas memang agak enggak nyambung ya, hehehe. By the way, kemarin kuliah Pak Steve kenapa kosong ya? But, it doesn’t matter coz kita udah ada pertemuan dengan native speaker pada hari rabu kemarin.
Oke kawan, kali ini saya hendak membahas sedikit mengenai pertemuan atau lebih tepatnya tanya jawab dengan seorang native speaker. Seperti yang telah dijanjikan oleh Pak Steve minggu sebelumnya, bahwasanya beliau akan mengundang native speaker buat sharing dengan kita anak-anak SBI yang gokil dan cool abis(hehehe, maksudnya apa sih? ) mengenai kebudayaan tempat negaranya berasal. Nah, kali ini kita kedatangan seorang native speaker  yang berasal dari negri kanguru yaitu Australia. Namanya adalah Kirrily. Dia seorang cewek dan orangnya ramah dan murah senyum. Selain Kirrily, ada juga seorang penterjemah mahasiswa dari fakultas bahasa dan sastra bernama Deborah.
Dalam sesi tanya jawab tersebut, banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman baik dari kelas SBI A maupun kelas SBI B. Pertanyaannya pun beragam coraknya. Dari seputar tempat tinggalnya di kota Canberra yang merupakan ibukota Australia hingga hal-hal menarik lainnya dari negara asalnya tersebut. Sepanjang tanya jawab itu, Pak steve pun turut serta sambil sesekali beliau juga bertanya kepada Kirrily. Saat tanya jawab tersebut berlangsung, saya sebenarnya tidak begitu konsen karena sesekali saya malah bercanda dengan teman-teman seperti Wahab, Imam, juga Yudy. Tapi nggak jadi masalah karena saya masih memahami alur pembicaraan yang terjadi meskipun tidak sepenuhnya.   
Dari hasil tanya jawab tersebut, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa rasa ingin tahu teman-teman SBI untuk dapat menambah wawasan begitu besar. Ini terbukti dari antusiasme teman-teman dalam bertanya kepada Kirrily. Pertanyaan yang mereka ajukan sangat interaktif dan atraktif (kayak pertunjukan aja, hehe). Dan Kirrily pun menjawab pertanyaan dengan cukup memuaskan. Program seperti ini dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa inggris karena berinteraksi langsung dengan native speaker. Meskipun sering mengalami kendala dalam hal grammar atau tata bahasa hal ini tidak menyurutkan  semangat teman-teman. Teruslah berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, kawan.
Baiklah sampai disini dulu, kiranya kalau terlalu panjang teman-teman pasti “aras-arasen” membaca postingan saya (padahal cuma alasan saja, yang asli memang males buat tulisan panjang-panjang). Well, sampai ketemu di postingan selanjutnya.
         

Senin, 30 Januari 2012

Stereotipe dan Pengaruh Media


Berbicara tentang stereotype, memang tidak bisa lepas dari faktor media. Banyak sekali stereotype yang muncul atau timbul di masyarakat berawal dari pemberitaan media baik itu media cetak atau elektronik. Seperti yang dijelaskan dalam perkuliahan pak Steve hari kamis kemarin, banyak sekali contoh-contoh daripada pengaruh media terhadap munculnya stereotype di masyarakat.
Secara tidak langsung, media memang memberikan andil yang cukup besar terhadap berkembangnya stereotype di masyarakat. Apalagi media elektronik seperti televisi yang dengan pemberitaannya yang sering dilihat oleh masyarakat. Misalnya saja iklan-iklan di televisi. Di Indonesia hal ini memang masih jarang dijumpai (atau mungkin malah sering dijumpai ya, hehehe), akan tetapi di luar negeri seperti di Negara Amerika Serikat ada cukup banyak contoh pemberitaan media televisi yang cenderung men-stereotipkan suatu kelompok orang tertentu. Kita sudah banyak melihat contohnya sewaktu perkuliahan pak Steve kemarin.
Memang di satu sisi, kita tidak boleh langsung saja mempercayai apa yang diberitakan oleh media tersebut. Karena biasanya pemberitaan media itu subjektif. Media sering hanya mengangkat sisi atau tema yang terlihat dari luarnya saja dan sering mereka juga kurang menggali lagi secara lebih mendalam tentang fakta atau kebenaran tentang suatu kelompok orang tertentu di masyarakat. Inilah yang acapkali membuat apa yang diberitakan oleh media terkesan menjadi langsung dipercayai begitu saja oleh khalayak luas. Padahal mungkin saja informasi itu belum cukup akurat karena baru dilihat dari satu sisi saja.
Terlepas dari itu semua, pemberitaan dari media juga tidak selamanya membawa efek yang negatif terhadap suatu kelompok atau grup tertentu. Malah terkadang, hal itu justru dapat membuat mereka menjadi terkenal atau lebih dikenal oleh masyarakat (terkenal apanya dulu ya, jeleknya atau baiknya, hehehe). Ya begitulah , dalam segala hal yang terjadi pasti terkandung suatu hikmah atau pesan yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran.

Senin, 23 Januari 2012

Stereotipe tentang orang berkacamata minus


Kalau anda pernah menonton salah satu film fiksi yang berjudul “superman” atau jikalau anda adalah salah satu pengagum berat film ini, anda pasti tahu bahwa dalam film ini aktor atau pemeran utamanya dalam kesehariannya memakai kacamata. Terlepas kacamata yang dipakainya itu minus atau tidak itu bukan jadi masalah. Seringkali di masyarakat kita terdapat semacam anggapan atau stigma terhadap suatu kelompok orang yang belum tentu sepenuhnya anggapan tersebut benar akan tetapi citra dari anggapan tersebut bisa jadi nampak kuat karena hal tersebut memang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah salah satu stereotipe yang kerap hadir di tengah-tengah kehidupan kita, bahwasanya orang yang memakai kacamata minus sering dianggap mempunyai kecerdasan lebih dibandingkan dengan orang yang tidak berkacamata minus. Namun hal tersebut tidak selalu bisa dijadikan ukuran bahwa orang berkacamata minus itu adalah orang yang memiliki kecerdasan lebih. Jika kita mau berpikir sejenak, mungkin saja dengan memakai kacamata minus, orang tersebut bisa jadi lebih terlihat sebagai orang yang mempunyai kecerdasan lebih.
Tapi jelasnya, yang namanya stereotype itu kita boleh percaya boleh juga tidak. Tergantung bagaimana kita menyikapi hal tersebut saja. Jadi lebih baik diambil yang positif sementara yang negatif kita tinggalkan saja.

Senin, 16 Januari 2012

Liburan di Pati


Waktu liburan semester satu merupakan waktu liburan yang cukup panjang. Dari pada nganggur di rumah saya memutuskan untuk ikut om saya pergi ke rumah orang tuanya yang berada di Pati. Pati merupakan salah satu kota yang ada di provinsi Jawa Tengah. Kota ini terletak di kawasan pesisir pantai utara pulau Jawa. Kami pergi ke sana beserta om, bibi, dan juga adik sepupu saya. Perjalanan ke sana kami tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Waktu yang ditempuh selama perjalanan ke Pati hampir mencapai kurang lebih 5 jam disebabkan kami sempat beristirahat dua kali. Yang pertama di Gubug sedangkan yang kedua di stasiun pom bensin Purwodadi. Selama di Pati saya tinggal di rumah orang tua om saya, yang bernama mbah Tik. Rumah mbah Tik ini terletak di desa Soneyan Kecamatan Margoyoso. Mbah Tik sendiri dikenal sebagai salah satu sesepuh di desa ini, sehingga banyak warga yang menaruh hormat kepada beliau. Hal ini nampak dari sikap mereka yang selalu memberi salam ketika berjumpa dengan beliau.
Desa Soneyan sendiri terdiri dari tiga RW yaitu: Sumber (RW1), Dungpanjang (RW2), dan Clangap (RW3). Sebagai salah satu daerah di Jawa Tengah, desa ini masih menyimpan dan melestarikan berbagai adat dan kesenian jawa. Diantaranya yaitu: Lamporan (diadakan setiap bulan Suro sebagai upacara untuk mengusir roh jahat), dan pada siang harinya digelar acara Barongan. Selain itu setiap bulan April juga diadakan sedekah bumi di 3 perdukuhan, dengan menggelar hiburan antara lain Seni Topeng, Wayang Kulit dan Barongan. (dikutip dari wikipedia)
Kehidupan masyarakat di desa Soneyan sendiri sebagian besar bertumpu pada bidang pertanian. Hal ini dapat terlihat dengan begitu banyaknya lahan yang  ditanami dengan berbagai macam tanaman dan pepohonan. Salah satu pohon yang sering dijumpai di desa ini yaitu pohon rambutan. Hampir di setiap rumah di desa ini memiliki setidaknya satu pohon rambutan. Selain bertani, mata pencaharian penduduk di desa ini ada yang beternak sapi atau kambing. Pagi-pagi sekali biasanya orang-orang pergi mencari rumput untuk makan ternak mereka. Kehidupan masyarakat di desa Soneyan ini sangat baik dan terjalin dengan harmonis.