Senin, 06 Februari 2012

The Fourth Posting

Selamat berjumpa kembali kawan-kawan. Setelah hampir satu minggu tak bertegur sapa, akhirnya kita bersua lagi di “arena” blog yang khusus buat tugas mata kuliah cross cultural understanding yang diampu oleh Pak Steve. Judul postingan di atas memang agak enggak nyambung ya, hehehe. By the way, kemarin kuliah Pak Steve kenapa kosong ya? But, it doesn’t matter coz kita udah ada pertemuan dengan native speaker pada hari rabu kemarin.
Oke kawan, kali ini saya hendak membahas sedikit mengenai pertemuan atau lebih tepatnya tanya jawab dengan seorang native speaker. Seperti yang telah dijanjikan oleh Pak Steve minggu sebelumnya, bahwasanya beliau akan mengundang native speaker buat sharing dengan kita anak-anak SBI yang gokil dan cool abis(hehehe, maksudnya apa sih? ) mengenai kebudayaan tempat negaranya berasal. Nah, kali ini kita kedatangan seorang native speaker  yang berasal dari negri kanguru yaitu Australia. Namanya adalah Kirrily. Dia seorang cewek dan orangnya ramah dan murah senyum. Selain Kirrily, ada juga seorang penterjemah mahasiswa dari fakultas bahasa dan sastra bernama Deborah.
Dalam sesi tanya jawab tersebut, banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman baik dari kelas SBI A maupun kelas SBI B. Pertanyaannya pun beragam coraknya. Dari seputar tempat tinggalnya di kota Canberra yang merupakan ibukota Australia hingga hal-hal menarik lainnya dari negara asalnya tersebut. Sepanjang tanya jawab itu, Pak steve pun turut serta sambil sesekali beliau juga bertanya kepada Kirrily. Saat tanya jawab tersebut berlangsung, saya sebenarnya tidak begitu konsen karena sesekali saya malah bercanda dengan teman-teman seperti Wahab, Imam, juga Yudy. Tapi nggak jadi masalah karena saya masih memahami alur pembicaraan yang terjadi meskipun tidak sepenuhnya.   
Dari hasil tanya jawab tersebut, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa rasa ingin tahu teman-teman SBI untuk dapat menambah wawasan begitu besar. Ini terbukti dari antusiasme teman-teman dalam bertanya kepada Kirrily. Pertanyaan yang mereka ajukan sangat interaktif dan atraktif (kayak pertunjukan aja, hehe). Dan Kirrily pun menjawab pertanyaan dengan cukup memuaskan. Program seperti ini dapat membantu mahasiswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa inggris karena berinteraksi langsung dengan native speaker. Meskipun sering mengalami kendala dalam hal grammar atau tata bahasa hal ini tidak menyurutkan  semangat teman-teman. Teruslah berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, kawan.
Baiklah sampai disini dulu, kiranya kalau terlalu panjang teman-teman pasti “aras-arasen” membaca postingan saya (padahal cuma alasan saja, yang asli memang males buat tulisan panjang-panjang). Well, sampai ketemu di postingan selanjutnya.
         

3 komentar:

  1. yups...
    banyak hal yg kita ketahui tentang budaya disana...
    juga bs dibuat ajang latihan ngomong inggris...
    tp kug malu juga buat speak2...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan cuma malu tp krn tkt slh ucap hihihi
      slma ni khan bhs inggris qt pasif doan wkwkwkwk

      Hapus
  2. hHAHAHHAH kita belajar kebudayaan kita. dan dia belajar kebudayaan kita. hahahha
    salut buat postinge.

    BalasHapus